Lirik Thola'al Badru Alaina Lengkap Arab, Latin dan Artinya

 Lirik Thola'al Badru Alaina

Bersholawat adalah wujud cinta kita terhadap Rasulullah Muhammad SAW. Ketika Rasulullah sedang hijrah ke Madinah, kalimat sambutan para wanita serta anak-anak merupakan thala'al badru alaina, yg artinya, sudah muncullah purnama.

Dengan bersholawat kita mengenang jejak serta mengobati rindu terhadap beliau. Demikian tertulis dalam hadits oleh Abul Hasan Al-Khal'i.

Tala 'al-Badru' Alayna (bahasa Arab: طلع البدر علينا‎) merupakan nasyid yg dinyanyikan oleh kaum Ansar untuk nabi Muhammad ketika menyambut kedatangan Nabi Muhammad di Yatsrib (sekarang Madinah) pada tahun 622 M [1][2]. Lagu ini sudah berumur 1400 tahun serta disebut-sebut sebagai salah satu peninggalan kebudayaan Islam yg tertua (Wikipedia).

Berikut lirik sholawat Thola'al Badru Alaina Lengkap :

Lirik Thola'al Badru Alaina Arab, Latin

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
Tala’a al-badru ‘alaynā

مِنْ ثَنِيَاتِ الْوَدَاعْ
Min thanīyāti al-wadā’

“Wahai bulan purnama yg terbit terhadap kita
Dari lembah Wadā’.”

وَجَبَ الشُّكْرُ عَليْنَا
Wajab al-shukru ‘alaynā

مَا دَعَى لِلّٰهِ دَاعْ
Mā da’ā lillāhi dā’

“Dan wajiblah kita mengucap syukur
Di mana seruan merupakan terhadap Allah.”

أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا
Ayyuhâl mab’ûtsu fînâ

جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ
ji,ta bil amril muthô’i

“Wahai Nabi yg diutus pada kami
Kau datang dengan kata yg wajib dipatuhi”

جِئْتَ شَرَّفْتَ المَدِينَة
Ji’ta syaraft al-madīnah

مَرْحبََاً يَا خَيْرَ دَاع
Marḥaban yā khayra dā‘

“Anda sudah mengangkat kemuliaan terhadap kota ini
Selamat datang penyeru paling baik ke jalan Allah”

طَلَعَ النُّورَ المُبِينُ
thaila’an nurul mubin

نُورُ خَيرِ المُرْسَلِين
nuru khairil mursalin

“Telah keluar cahaya yg terang
Cahaya sebaik baik utusan”

نُورُ أَمْنِِ وَسَلَامِِ
nuru amnin wa salam

نُورُ حَقِّ ويَقِين
nuru haqin wa yaqin

“Cahaya keamanan serta keselamatan
Cahaya kebenaran serta keyaqinan”

سَاقَهُ الَلَّهُ تَعَالَى
saaqahullahu ta’ala

رَحْمَةََ لِلْعَالَمِين
rahmatan lil’alamin

“Allah (ta’ala) mencurahkan padanya
Sebagai rahmat bagi sekalian alam”

فَعَلَى البَرِّ شُعَاعٌ
fa’alaal barrisyu’a

وَعَلَى البَحْرِ شُعَاع
wa’alal bah’rissyu’a

“Maka didaratan ada suatu pancaran
dan dilaut juga ada pancaran”

مُرْسَلُ بِالحَقِّ جَاءَ
mursalun bil haqqi’ja a

نُطْقُةُُ وَحْيُ السَّمَاء
nutquhu wahyussama

“seorang utusan yg sudah mengangkat kebenaran
ucapannya bimbingan wahyu dari Allah”

قَوْلُهُ قَوْلٌ فَصِيحٌ
qauluhu qoulun fashihun

يَتَحَدَّى البَلْغَاء
yatahadal bulagho’

“perkataannya fasih
mudah di paham”

فِيهِ للْجِسْمِ شِفَاءٌ
Latin: fihi liljismi syifa

فِيهِ لِلرُّوحِ دَوَاء

fihi lirruhi dawa

“beliau sebagai penyembuh
luka serta pengobat jiwa”

أَيُّهَا الهَادِي سَلَامٌ
ayyuhal hadi salaman

مَا وَعَى القُرآنَ وَاع
ma wa’al-qur’ana wa’

“wahai sang petunjuk jalan..
keselamatan untuk mereka yg belajar alquran”


RASULULLAH shalallahu alayhi wa’alihi wasallam tak mau berpisah dengan orang2 yg mencintai beliau. Beliau selalu ingin dekat dengan mereka. Dijelaskan ketika Rasul berakhir dari Fatah Makkah,, kaum Anshar merasa cemburu menonton kaum muhajjirin memperoleh ghanimah.

Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam membagi bagi ghanimah disaat berakhir perang Hunain didalam riwayat yg Tsiqah berakhir perang Hunain, Rasul membagi bagi kaum Muhajirin, sebab mereka telah kembali ke Makkah, tak tinggal semakin di Makkah balik lagi bersama Rasul ke Madinah, jadi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kasihan menonton kaum Muhajirin telah pulang kampung, di tinggal kampungnya ingin bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka Rasul membagi2 ghanimah terhadap Muhajirin serta pada mu’allaf serta kaum Anshar tak diberi jadi kaum Anshar mengeluh:
“Disaat kami susah kami yg dipanggil”
ketika Rasul dalam desakan diperang Hunain, Rasul berbalik ke kanan serta kirinya serta berkata: “Wahai kaum Anshar…”
maka Anshar pun turun dari atas bukit – bukit serta mengatakan :
“Labbaik wa sa’daik ya Rasulullah” wahai Rasul kami datang, kami datang, kami bersamamu”,
Mereka turun dari atas bukit dengan panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jadi kaum anshar berkata: “Saat susah kami yg dipanggil, tapi ketika tahap pemecahan kami tak di beri..”

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
“Mereka (kaum muhajjirin) kembali kerumah2 mereka mengangkat ghanimah, mengangkat harta, mengangkat kambing, mengangkat onta, mengangkat kerbau, serta anda belum cukupkah apabila aku pulang ketempat kampung2 kalian, aku datang untuk anda tak cukupkah aku untuk kalian?
Maka mereka ku berbagi harta tetapi anda ku berbagi diriku”

Maka bergembiralah kaum Anshar mendengarnya:

“Sudah Ya Rasulullah, lumayan ya Rasulullah kami sangat gembira”
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda untuk menenangkan kaum Anshar seraya berkata:

“Jika seandainya kaum Anshar meninggalkan Madinah berangkat kelembah lain, aku akan ikut bersama kaum Anshar, apabila seandainya kaum Anshar berangkat kesuatu perbukitan keluar dari Madinah aku akan bersama kaum Anshar, apabila bukan sebab hijrah aku merupakan dari orang-orang Anshar” kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Sedemikian cintanya Rasulullah tak mau berpisah dengan para kekasihnya, kaum Anshar sangat cinta pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihiwasallam, ketika beliau datang jadi THOLA’AL BADRU ‘ALAINA bergemuruh dengan rebana menyambut kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Disaat Rasul yg terusir disemua wilayah, terusir di Makkah, terusir di Tha’if serta di kawasan lainnya melainkan di Madinah justru di sambut dengan hangat oleh Kaum Anshor, jadi ketika itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tak lupa cintanya kaum Anshar, yg rutin tak ingin pisah dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url